Newest Post
// Posted by :Unknown
// On :Jumat, 30 Agustus 2013
SUNGGUH suatu kenikmatan luar biasa
menjadi seorang Muslim. Semua aktivitasnya bernilai pahala dan membawa
keberkahan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan hal-hal yang dianggap biasa pun
oleh manusia pada umumnya, dalam Islam tetap terdapat teladan dan aturan-aturan
yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Satu di antaranya adalah perihal
tidur. Dalam Islam, aktivitas tidur menandakan tanda-tanda kekuasaan Allah yang
begitu agung. Allah menciptakan malam untuk istirahat, dan siang untuk
beraktivitas (‘jihad’). Maka bagi seorang Muslim, malam dan siang juga menjadi
kesempatan istimewa untuk khusyuk beribadah kepada-Nya serta bekerja dengan penuh
kesungguhan.
Tetapi bagaimana tidur yang
berkualitas, tidur yang benar-benar memberikan manfaat langsung baik pada fisik
maupun psikis, inilah yang banyak belum diperhatikan oleh kebanyakan umat
Islam.
Hakikat dan Fungsi Tidur
Tidur sangat membantu terciptanya
keseimbangan dalam kehidupan individu. Dengan demikian tidur tentu bukan
perkara yang sepele. Justru ketika melihat fungsi dan peran tidur bagi
kehidupan dan kesehatan manusia, sudah sewajarnya kita memperhatikannya dengan
seksama.
Al-Qur’an sendiri menjelaskan bahwa
tidur itu perlu dan penting, utamanya untuk kesehatan.
وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتاً
“Dan Kami jadikan tidurmu untuk
istirahat.” (QS. 78: 9).
Pernyataan Allah SWT ini jauh
melebihi batas perkembangan ilmu pengetahuan. Di mana setelah itu, dalam
perkembangan ilmu medis ikut menyebutkan, salah satu cara paling efektif dalam
menjaga kesehatan adalah tidur (istirahat) yang cukup.
Menurut medis, tidur yang cukup sangat membantu penguatan sistem kekebalan tubuh pada manusia.
Menurut medis, tidur yang cukup sangat membantu penguatan sistem kekebalan tubuh pada manusia.
Bahkan Dr. Tauhid Nur Azhar dalam
bukunya, “Jangan ke Dokter Lagi!” menyatakan bahwa, yang terpenting dan harus
diperhatikan secara seksama ialah sistem kekebalan tubuh. Sebab dengan sistem
kekebalan tubuh yang sehat fisik akan terjamin bebas dari berbagai penyakit.
Oleh karena itu tidur adalah perkara
penting dalam keseharian kita. Kurang tidur yang terus-menerus kita alami akan
menjadikan sistem imun manusia mengalami pelemahan. Khusus pada orang dewasa,
kurang tidur bisa menyebabkan lemahnya kinerja sistem kekebalan tubuh (imun).
Sementara itu tidur yang cukup
selain akan sangat membantu kita mengurangi rasa letih dan lesu juga akan
mengurangi perasaan jengkel, kesal. Sebaliknya akan menstimulasi munculnya
perasaan dan pikiran yang positif.
Tidurnya kaum Muslim
Kapan saat tepat kita harus tidur?
Dan bagaimana cara kaum Muslim tidur?
Jika mengacu pada sistem kerja organ
vital tubuh maka tidur yang baik adalah pada awal-awal malam, sekitar jam 8
malam. Sebab empedu aktif bekerja antara jam 11 malam hingga jam 1 dini hari.
Sementara hati, mulai aktif bekerja mulai jam 1 malam.
Apabila pada jam-jam tersebut kita
masih belum tidur, apalagi masih asyik makan-makan maka sebenarnya kita telah
merusak alur tubuh kita sendiri.
Jadi upayakan untuk tidak tidur
larut malam, apalagi begadang. Selain akan mengurangi kualtias tidur juga
berpotensi merusak sistem kerja tubuh kita sendiri.
Fakta ini berkorelasi positif dengan hadis nabi yang memerintahkan umat Islam untuk bersegera tidur setelah sholat Isya.
Fakta ini berkorelasi positif dengan hadis nabi yang memerintahkan umat Islam untuk bersegera tidur setelah sholat Isya.
“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘allaihi
wasallam membenci tidur malam sebelum (sholat Isya) dan berbincang-bincang
(yang tidak bermanfaat) setelahnya (begadang).” [HR Bukhari dan Muslim)
Salah satu tanda kecintaan kita
kepada Nabi kita adalah mencintai dan melakukan apa yang telah dikerjakan,
termasuk tidurnya Rasulullah.
Semua perilaku Nabi dalam
kesehariannya adalah teladan (uswah) yang baik. Berarti semua itu memberikan
banyak manfaat dalam kehidupan kita.
Salah satu yang utama yang perlu
kita ketahui dan kita teladani adalah perkara tidurntya Rasulullah saw.
Pertama, Rasulullah senantiasa
berwudhu dahulu sebelum tidur.
“Apabila engkau hendak mendatangi
pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebagaimana
wudhumu untuk melakukan sholat.” (HR. Al-Bukhari)
Kedua, Berdoa sebelum tidur. Doa
adalah senjata seorang Muslim. Oleh karena itu dalam segala hal, termasuk tidur
hendaklah diawali dengan doa dan dzikir.
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa tidur di suatu tempat tanpa berdzikir kepada Allah, maka ia pun akan mendapatkan hal yang dia sesali dari Allah.” (HR. Abu Dawud).
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa tidur di suatu tempat tanpa berdzikir kepada Allah, maka ia pun akan mendapatkan hal yang dia sesali dari Allah.” (HR. Abu Dawud).
Aisyah ra juga meriwayatkan bahwa,
‘Apabila Rasulullalh menuju pembaringannya setiap malam, beliau mempertemukan
kedua ltelapak tangannya, lalu meniupnya sambil membaca: “Qul huwallahu Ahad,”
“Qul A’uudzu bi Rabbil falaq,” dan “Qul A’udzu birabbinnas,” kemudian
mengusapkan kedua telapak tangannya ke sekujur tubuhnya, dimulai dari kepala
dan wajahnya serta tubuh bagian depan. Demikian beliau mengulanginya sebanyak
tiga kali. (HR. Bukhari Muslim, Tirmidzi, Ibn Majah, dan Abu Dawud).
Ketiga, miring ke kanan dengan
menghadap qiblat
Hendaknya mendahulukan posisi tidur
di atas sisi sebelah kanan (rusuk kanan sebagai tumpuan) dan berbantal dengan
tangan kanan, tidak mengapa apabila setelahnya berubah posisinya di atas sisi
kiri (rusuk kiri sebagai tumpuan). Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah:
“Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” (HR. Al-Bukhari).
Riset ilmiah dunia medis menjelaskan
bahwa ada keuntungan besar yang didapat ketika seseorang tidur miring ke kanan.
Di antaranya ialah menghalangai
tekanan hati yang berlebihan pada lambung. Dapat mempercepat pengeluaran cairan
di usus dan usus dua belas jari, berkat adanya gaya gravitasi, sebab mulut
lambung menghadap ke bawah.
Selain itu juga mempermudah proses
kerja batang tenggorokan sisi kiri, dimana organ ini dapat dengan cepat
menghasilkan cairan lendir. Juga membuat rileks gerak jangung dan lambung, atau
mengurangi tekanan pada keduanya.
Keempat, meletakkan tangan kanan di bawah pipi kanan
Keempat, meletakkan tangan kanan di bawah pipi kanan
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam apabila tidur meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya.” (HR.
Abu Dawud).
Jadi, saatnya kita kembali
memperhatikan tauladan kita dalam segala hal, terkhusus dalam hal tidur. Sebab
tidur dalam Islam bukan sekedar memejamkan mata dan lelap dalam kelelahan tanpa
nilai tambah atau keunggulan. Tidur dalam Islam adalah satu fase yang harus
memberikan spirit baru untuk lebih produktif dalam berkarya untuk mewujudkan
kesejahteraan umat manusia.
Dan pasti, tidak ada yang dicontohkan
nabi kecuali terjamin dan terbukti unggul dan berpahala. Tidur seperti nabi
adalah tidur yang sehat dan berpahala. Oleh karena itu, marilah kita teladani
cara beliau dalam tidur. Semoga tidur kita adalah tidur yang bernilai pahala
membawa berkah dalam kehidupan kita sehari-hari.
Hanya perlu diingat, meski tidur
(istirahat) itu penting, Rasulullah dan ulama-ulama salaf berbeda dengan kita.
Rasulullah dan para ulama sedikit makan, sedikit bicara dan sedikit tidur,
karena waktu 2/3 malamnya digunakan menangis di hadapan Allah. Sementaranya
bedanya dengan kita semua “sedikit-sedikit” makan, “sedikit-sedikit” bicara dan
“sedikit-sedikit” tidur. Wallahu a’lam./Iman Nawawi

